Rizki aditya febrian
Pro Kontra Proklamasi pada Peristiwa Rengasdengklok
Sejarah kemerdekaan Indonesia juga mengalami pro kontra menjelang pembacaan
proklamasi tersebut. Pro kontra ini terjadi antara golongan muda dan golongan
tua.
Dimana golongan tua merupakan para anggota PPKI seperti Soekarno dan Hatta.
Sementara golongan muda diwakili para anggota PETA dan para mahasiswa.
Pro kontra ini terjadi karena golongan muda menganggap bahwa golongan tua
terlalu konservatif, sebab mereka menghendaki pembacaan proklamasi harus
melalui PPKI dan sesuai dengan prosedur yang telah dijanjikan oleh Jepang yakni
pada tanggal 24 Agustus 1945. Di sisi lain golongan muda menolak jika proklamasi
harus dilaksanakan melalui PPKI.
Pasalnya golongan muda menganggap bahwa PPKI merupakan bentukan Jepang,
dan mereka menginginkan kemerdekaan dengan kekuatan sendiri.
Sutan Syahrir yang termasuk dalam golongan muda merupakan tokoh pertama
yang mendesak Soekarno-Hatta untuk segera melakukan proklamasi.
Selanjutnya rapat resmi dilangsungkan di Pegangsaan Timur Jakarta pada 15
Agustus 1945. Yang dihadiri oleh Djohar Nur, Subianto, Armansyah, Chairul Saleh,
Kusnandar, Wikana, Margono, dan Subadio.
Hasil rapat yang dipimpin oleh Chairul Saleh tersebut memutuskan bahwa
kemerdekaan Indonesia tidak harus menggantungkan pada pihak lain, dan
merupakan hak rakyat.
Meski keputusan rapat yang menjadi bagian sejarah kemerdekaan Indonesia itu
telah disampaikan kepada Soekarno-Hatta, mereka tetap bersikeras dengan
pendiriannya yaitu proklamasi harus dilangsungkan melalui PPKI.
Sehingga pada akhirnya golongan muda membawa Soekarno-Hatta ke
Rengasdengklok, salah satu daerah di Kabupaten Karawang.
Pilihan membawa Soekarno-Hatta ke luar Jakarta adalah untuk menjauhkan
mereka dari pengaruh Jepang. Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok
dibantu dengan perlengkapan tentara PETA.
2
Rengasdengklok sendiri dipilih karena letaknya strategis dan terpencil, sehingga
tentara PETA bisa mengawasi setiap langkah tentara Jepang.
Komentar
Posting Komentar